PENGURUS PESANTREN

KH. Ahmad Zaenuri
Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Istiqomah
KH.
Ahmad Zaenuri, (lahir pada tanggal 04 februari 1951) merupakan ulama’ asli
dukuh Blimbing Desa Luwung Kecamatan Banyuputih RT 01 RW 02.
Sejak
kecil beliau sudah terlihat memiliki pribadi yang apa adanya. Sikap beliau
sangat ramah dan selalu semangat dalam menuntut ilmu.
Masa
kecilnya beliau mengaji dan mengkaji kitab salaf di Ds. Luwung, kecamatan
banyuputih guru ngaji beliau bernama Mbah Sayi dan Mbah Ahya’ (tokoh kyai yang
berada di ds. Luwung)
Pada
tahun 1967-1968 beliau belajar di madrasah diniyah yang saat itu guru madrasah
beliau bernama simbah kyai Ikhwan.
Dimasa
kecilnya beliau sering tidak tidur di rumah dan lebih suka tidur ditempat
ngajinya, sering bapaknya beliau ( mbah wasi’an) tiap malam mengirim bekal ke
tempat ngajinya yang berada di ds. Luwung. Kemudian menjelang dewasa abah KH. Ahmad
Zaenuri melanjutkan bertholabul ilmi ke tempat yang agak jauh dari rumahnya,
yaitu di desa Plumbon Kecamatan Limpung. Beliau mondok dan menetap di pondok
pesantren TPI Al Hidayah yang diasuh oleh simbah Kyai Sya’ir saat itu.
Beliau
berangkat mondok pada akhir tahun 1969 atau awal tahun 1970, beliau berangkat
ke pesantren Bersama teman ngajinya dari ds. Luwung yang bernama Bapak Jarno.
Mereka
berdua berangkat ke pesantren pada hari ahad pahing dan diantarkan oleh guru
ngajinya di kampung. Beliau berangkat ke pesantren jalan kaki dari rumah sampai
Limpung. dan melanjutkan perjalanannya sampai di pondok pesantren TPI Al
Hidayah desa Plumbon Kecamatan Limpung (yang diasuh oleh kyai syair saat itu).
Beliau
semangat nyantri karena simbah/kakeknya yang bernama (mbah Sayyidin) dulu juga
nyantri di Kediri kurang lebih selama 7 tahun.
KH.
Ahmad Zaenuri selama di pesantren senang beriadhoh/berpuasa sunah.
Pada
tahun 1974 beliau riadhoh puasa dalailul khoirot yang berijazah dengan Abahyai Basyir
(pengasuh pondok pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus) yang diantar oleh simbah Kyai
Syair. Beliau riadhoh selama 3 tahun dan khatam Pada tahun 1977.
Menjelang
boyong/menyelesaikan mondokknya KH. Ahmad Zaenuri di bai’at thoriqoh oleh
simbah kyai syair di pondoknya.
Kemudian
pada tahun 1978 akhir/ 1979 awal beliau pulang dari pesantren TPI Al Hidayah tempat
ia menuntut ilmu agamanya. Sebelum pamit boyong, beliau pernah minta izin
pindah nyantri atau mondok di kediri (sekaligus napak tilas tempat mondok
kakeknya dulu). Tetapi simbah kyai syair menyarankan untuk meneruskan
perjuangan di kampungnya. Dan pada akhirnya beliau tidak jadi pindah mondok.
Setelah
boyong dari pesantren pada tahun 1978 beliau mengakhiri masa lajangnya dengan
menikahi ibu Hj Rondhiyah seorang perempuan yang berasal dari desa Limpung.
Sekitar kurang lebih satu tahun menikah beliau dikaruniai putri yang pertama
yang diberi nama Uswatun khasanah.
Disaat
dikaruniai putri pertamanya saat itu jugalah perekonomian beliau belum stabil
dan sampai akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sowan dan riadhoh kembali.
Pada
tahun 1982 beliau (KH. Ahmad Zaenuri) berjalan kaki dari rumah sampai Batu
Ampar, Madura yang ditempuh kurang lebih selama 15 hari). Sesampai di Batu Ampar
beliau sowan ke Syekh Romli. Usahanya sowan akhirnya bisa bertemu Syekh Romli pada
hari yang ke 4.
Sepulang
dari batu ampar, KH. Ahmad zaenuri mendapatkan pesan dari syekh romli untuk
tetap meneruskan perjuangannya di kampung dan tidak berpindah tempat tinggalnya
jika ingin ilmunya manfaat. Mendengar pesan sang guru akhirnya beliau tidak
jadi pindah dan lebih semangat kembali dalam syi’ar memperjuangkan agama di
kampungnya.
Pada
tahun 1982 akhir beliau mendirikan mushola di samping rumahnya. Dan pada saat
itulah pembukaan pengajian/selapanan Bersama masyarakat blimbing,luwung dimulai.
yang bertepatan pada hari minggu pahing, yang dihadiri oleh guru beliau simbah
kyai syair (pengasuh pondok pesantren TPI Al-Hidayah) plumbon limpung
Kemudian
pada tahun 1987 pada hari sabtu manis simbah kyai sya’ir wafat.
Sebagaimana
halnya pesantren yang lain, pesantren al-Istiqomah juga diawali dengan adanya
beberapa anak yang datang dari sekitar
Dukuh Blimbing dan Kampung yang berdekatan seperti Dukuh Lokojoyo Desa
Banyuputih (± 2 KM), Dukuh Slatri Desa Kalangsono (± 3 KM) dan Dukuh Kayen Desa
kalibalik (± 1 KM) untuk menuntut ilmu.
Mereka datang sore hari dan pulang pagi harinya dengan memanfaatkan mushola,
mereka melakukan aktifitas kegiatan belajar mengajar seperti belajar Al-Qur’an
dan Kitab Kuning.
Akhirnya
pada tahun 1991 mushola tempat proses kegiatan belajar dibagi (dipartisi)
menjadi beberapa bagian kamar santri yang menetap (mukim) di Pesantren,
berkembangnya waktu pada tahun 1992 mulai ada santri putri yang menetap/mukim di
ndalem beliau, kegiatan belajar mengajar pun dibantu oleh asatidz dari alumni
TPI Al-Hidayah seperti Kyai Abdul Latif Luwung, kyai Irfandi kemunig, kyai
abdul Nasir adiloko, kyai Musiron luwung, kyai Syamsul ma’arif adiloko dll.
Berkembangnya
waktu santri putri semakin bertambah dan akhirnya dibuatkan asrama yang
dibangun di atas tanah milik sendiri, kemudian diwakafkan untuk asrama putri.
Asrama putri dibangun sekitar tahun 2002.
Sebelum
membangun asrama putri pada tanggal 02 Oktober 2001 penerbitan sertifikat wakaf
seluas 2.030m3 yang dipergunakan untuk masjid jami’ yang diberi nama Masjid
Al-Istiqomah ( nama masjid dan asrama diberikan oleh Syekh Abdurrohman Ahmad Al
Baidhowi, Mranggen Demak).
Setelah
pembangunan masjid selesai yang dibangun sekitar 1,5 tahun, kh. Ahmad zaenuri
melanjutkan perjuangannya membangun asrama putri yang diresmikan oleh Bp. H.
Bambang bintoro,SE pada saat itu menjabat sebagai bupati batang pada hari
minggu, 28 mei 2006.
Selain
beliau mengabdikan berdakwah dengan para santri kh. Ahmad zaenuri juga aktif
diberbagai organisasi nahdlotul ulama’. Beliau menjadi syuriah di MWC NU
banyuputih pada tahun 2018-2023 dan dilantik kembali periode kedua pada tahun
2023-2025 (sampai beliau wafat).
Selama
kurang lebih 47 tahun berkeluarga, KH. Ahmad zaenuri dikaruniai 3 keturunan
yang sekarang sudah didawui untuk meneruskan perjuangannya di pesantren Al-Istiqomah.
Tahun
2006 pondok pesantren Al-Istiqomah mulai membuka sekolah kesetaraan/kejar paket
wustho dan ulya. Kemudian akhirnya pada tahun 2021 pondok pesantren
al-istiqomah mendirikan sekolah formal MTs Al-Istiqomah yang diamanatkan kepada
putra pengasuh yang kedua yaitu H. Sirojudin Munir,S.Pd.I.,M.Pd dan Hj.
Ainiyatul Hajroh,S.Pd.I.
Untuk
pondok salafnya sekarang ini diasuh oleh KH. Akhmad Arifin dan Hj. Uswatun
Khasanah (putra pertama pengasuh). Sedangkan untuk pondok tahfidz alqur’annya
di asuh oleh Gus Khusnul Marom al-hafidz dan Nyai Noviatul Muqsodah al-hafidhoh
(putra ketiga pengasuh).
Akhirnya
pada hari jum’at wage, 16 januari 2025 berita duka datang dari keluarga besar
pengasuh bahwa pendiri ponpes al-istiqomah kh. Akhmad zaenuri berpulang
kerahmatulloh/wafat. Saat itu para santri,alumni,wali santri, dan masyarakat
pada umumnya sangat merasakan kehilangan sosok beliau untuk selama-lamanya.
Beliau
(KH. Ahmad Zaenuri) dimakamkan di sebelah pemakaman umum dukuh blimbing, atau
depan Gedung MTs Al-Istiqomah. Makam beliau selalu ramai karena para santri slalu
mendo’akan dan muthola’ah di tempat itu, bahkan banyak peziarah yang datang
dari luar dukuh blimbing desa luwung juga.